pusaran.net - Suara peluit petugas, denting roda baja di atas rel, dan arus manusia di peron—semuanya menjadi pemandangan yang akrab di Stasiun Gubeng setiap pagi. Di antara hiruk-pikuk itu, ada kisah tentang kepercayaan yang terus tumbuh.
Sepanjang Januari hingga September 2025, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 8 Surabaya mencatat 9.073.675 pelanggan, naik 2,43 persen dibanding tahun lalu. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret perubahan perilaku masyarakat yang semakin memilih kereta api sebagai bagian dari keseharian mereka.
Baca juga: Penumpang KAI Daop 8 Surabaya Tembus 6 Juta Sepanjang 2025
“Kereta api kini bukan sekadar alat transportasi, tapi bagian dari gaya hidup mobilitas hijau,” ujar Luqman Arif, Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya.
Antara Efisiensi dan Kenyamanan
Kenaikan jumlah penumpang terjadi di hampir semua stasiun utama, terutama Surabaya Gubeng, Pasarturi, dan Malang—tiga simpul besar mobilitas di Jawa Timur.
Dari total pelanggan, 4,5 juta lebih tercatat naik, dan jumlah yang hampir sama turun di berbagai stasiun Daop 8. Angka itu menggambarkan pergerakan yang dinamis, ritme kehidupan urban yang terus berpindah dari satu kota ke kota lain.
Di antara beragam pilihan layanan, kereta kelas ekonomi masih menjadi primadona. Lebih dari enam juta pelanggan memilihnya—bukti bahwa efisiensi dan kenyamanan bisa berjalan beriringan. Di kursi ekonomi yang kini semakin nyaman, banyak kisah bertemu: pekerja komuter, mahasiswa perantau, pedagang kecil, hingga wisatawan.
Baca juga: KA Barang Aksa Cargo Anjlok di Pasar Turi, Warga Kaget Suara Dentuman
Rel yang Menghubungkan Lebih dari Sekadar Kota
Bagi KAI, peningkatan jumlah pelanggan bukan hanya urusan bisnis. Di baliknya ada misi besar: menghadirkan mobilitas yang inklusif dan ramah lingkungan.
Digitalisasi layanan, perbaikan fasilitas, serta integrasi antarmoda menjadi langkah nyata yang terus dijalankan.
Baca juga: Layanan Lost & Found KAI Pulihkan 1.839 Barang Senilai Rp1,26 M
“Kereta api tidak hanya menghubungkan kota ke kota, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah, membuka akses wisata, dan mengurangi emisi karbon,” tutur Luqman.
Surabaya, dengan dua stasiun utamanya yang selalu ramai, kini bukan hanya pusat keberangkatan, tetapi juga pusat perubahan cara masyarakat bergerak. Dari rel-rel inilah tumbuh kesadaran baru: bahwa perjalanan bisa efisien tanpa meninggalkan jejak karbon yang besar. (pn1).
Editor : Wasi