Hasto Respons Survei IPO, PDIP Pilih Evaluasi

avatar pusaran.net
Caption : Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bersama Tri Rismaharini dan beberapa kader PDI-P yang mengunjungi rumah kos Soekarno milik HOS Tjokroaminoto, Senin (10/8/2026).
Caption : Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bersama Tri Rismaharini dan beberapa kader PDI-P yang mengunjungi rumah kos Soekarno milik HOS Tjokroaminoto, Senin (10/8/2026).

pusaran.net - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menanggapi hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang menempatkan PDIP di bawah Partai Gerindra dalam elektabilitas politik. Hasto menyebut hasil survei tersebut menjadi bahan evaluasi bagi partainya untuk menyusun strategi politik ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Hasto saat mengunjungi museum yang sebelumnya merupakan rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Rumah tersebut dikenal sebagai tempat Soekarno muda pernah tinggal dan belajar bersama sejumlah tokoh pergerakan. Dalam kunjungan itu, Hasto didampingi mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini serta sejumlah kader PDIP.

Baca Juga: Drum Band dan Seni Tradisi Semarakkan Pembukaan Soekarno Cup

Menurut Hasto, survei politik pada dasarnya hanya menggambarkan persepsi publik pada waktu tertentu. Karena itu, hasil survei tidak semestinya diperlakukan sebagai ukuran final kekuatan sebuah partai.

"Kami sudah melakukan kajian-kajian karena survei ini kan temporer. Ini hanya memotret persepsi publik ketika survei itu dilakukan," kata Hasto.

Ia menegaskan PDIP akan menggunakan hasil survei sebagai instrumen untuk melakukan koreksi, mengevaluasi kinerja, serta merancang strategi politik.

Namun, bagi Hasto, tantangan politik PDIP jauh lebih besar daripada sekadar mengejar angka elektabilitas.

"Yang penting kerja untuk rakyat. Apa pun surveinya, kalau kita tidak bisa membawa perubahan-perubahan konkret pada kehidupan rakyat marhaen, lalu apa makna politik?" ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa PDIP ingin mengembalikan ukuran keberhasilan politik pada dampak kebijakan yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok wong cilik.

Hasto juga menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah yang menurutnya masih membutuhkan pembenahan. Salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengatakan survei semestinya tidak hanya dibaca sebagai angka politik, tetapi juga sebagai cermin atas persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah.

"Contoh dari survei itu kan makan bergizi gratis, misalnya, dipersepsikan di dalam tata pelaksanaannya banyak penyimpangan, ada kasus korupsi. Itulah yang harus dilakukan perbaikan," katanya.

Di tengah dinamika elektoral tersebut, Hasto menegaskan PDIP tetap mempertahankan identitas politiknya sebagai partai yang memiliki sejarah panjang dengan pemikiran dan warisan politik Bung Karno.

Ia menyebut PDIP sebagai partai wong cilik yang harus terus memperkuat akar rumput, bukan semata-mata mengejar popularitas melalui survei.

Baca Juga: 400 Talenta Muda Sepak Bola Siap Warisi Api

"Kami tetap menetapkan diri sebagai partai yang memiliki sejarah dengan pemikiran, legacy dengan Bung Karno, partai wong cilik. Kami terus bergerak memperkuat akar rumput," tegasnya.

Hasto juga mendorong seluruh kepala daerah yang berasal dari PDIP untuk bekerja lebih keras. Menurut dia, tren elektoral harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Ia mencontohkan Surabaya sebagai salah satu daerah yang dinilai mampu menerjemahkan narasi keberpihakan kepada masyarakat kecil ke dalam kebijakan.

Menurut Hasto, kebijakan tata ruang, penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin, hingga bantuan sosial yang bersifat memberdayakan dapat menjadi contoh bagaimana politik kerakyatan diterapkan secara konkret.

"Bantuan sosial itu adalah bantuan yang memberdayakan, yang meningkatkan kemampuan produksi rakyat," ujarnya.

Hasto juga meminta anggota legislatif PDIP ikut mengambil peran di tengah tantangan fiskal yang semakin berat. Ia mendorong para legislator mengawal program-program padat karya sekaligus meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat.

"Termasuk untuk meningkatkan keterampilan rakyat dalam meningkatkan produktivitas, termasuk di pertanian," katanya.

Baca Juga: Soekarno Cup 2026 Satukan Talenta Muda dari Papua hingga Sumut

Bagi PDIP, survei IPO dengan demikian bukan sekadar kabar buruk atau ancaman elektoral. Hasil tersebut justru ditempatkan sebagai alarm agar mesin partai kembali bekerja di lapangan.

Pesan Hasto jelas: elektabilitas tidak cukup dibangun dari angka survei. PDIP harus membuktikan identitas sebagai partai wong cilik melalui kebijakan yang benar-benar mengubah kehidupan rakyat. 

Dalam kesempatan ini, Hasto sempat menaiki tempat tidur Soekarno saat kos di rumah HOS Tjokroaminoto. Usai memasuki kamar, ia menceritakan aura dan pengorbanan apa yang dilakukan para pejuang melawan VOC, khususnya yang dirasakan oleh Soekarno muda saat itu.

"Maka dari itu, saya mengajak Bu Risma berkunjung ke sini (rumah HOS Tjokroaminoto), karena Peneleh-HOS Tjokroaminoto-Soekarno berkaitan langsung dengan Bu Risma," jelasnya.

Seraya mengamini perkataan Hasto, Tri Rismaharini menceritakan, bagaimana dirinya berjuang demi berdirinya museum ini. Dimana saat itu, Risma masih menjabat Kepala Dinas, dan Wali Kota Surabaya diduduki oleh Bambang DH.

"Saya selalu menyisihkan keuangan kantor untuk dan meminta ijin Pak Bambang DH untuk bisa merealisasikan membeli bangunan ini. Waktu itu sempat terkendala dengan keberadaan ahli waris pemilik bangunan ini," tandasnya. (pn2)

Berita Terbaru