pusaran.net – Di antara deretan rumah-rumah padat di gang sempit kawasan Morokrembangan, Kalianak, tersimpan kisah inspiratif seorang pemuda tangguh. Namanya Ibra Maulana, 21 tahun, anak seorang penjual garam yang kini menjadi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Hidup dalam kesederhanaan bersama sang ayah, Rawi (50), tidak membuat Ibra menyerah pada keadaan. Ia justru menjadikannya sebagai bahan bakar untuk berjuang lebih keras agar bisa menempuh pendidikan tinggi.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Buka Cross Musea Pertiwi 2026, Padukan AI dan Wayang
Ketekunan itu akhirnya berbuah manis. Ibra berhasil meraih Beasiswa Pemuda Tangguh dari Pemerintah Kota Surabaya, sebuah program bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berprestasi.
“Awalnya itu tahu dari teman, terus saya coba daftar waktu semester tiga tapi belum lolos. Baru di semester empat alhamdulillah diterima,” tutur Ibra saat ditemui di rumahnya, Sabtu (11/10/2025).
Mahasiswa semester lima jurusan Teknik Elektro ini bercerita, sejak duduk di bangku SMP hingga SMK, dirinya tidak terlalu terbebani biaya sekolah karena bersekolah di negeri. Namun, saat masuk kuliah, ia mulai merasakan beratnya biaya pendidikan yang harus ditanggung secara mandiri.
“Waktu kuliah kan harus bayar UKT dan kebutuhan lain. Jadi beasiswa ini benar-benar membantu, terutama supaya ayah tidak harus mengeluarkan uang banyak,” ungkapnya.
Meringankan Beban Ayah
Beasiswa Pemuda Tangguh menanggung biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta memberikan uang saku bulanan. Bagi keluarga sederhana seperti mereka, bantuan ini memberikan napas lega.
“Dampak yang paling terasa itu jelas ekonomi. Dulu kalau bayar UKT bisa sampai Rp 2,4 juta. Sekarang sudah tertangani dari beasiswa,” kata Ibra.
Sebagian uang sakunya ia tabung. Hasilnya, kini Ibra memiliki laptop baru yang dibeli dari hasil menabung beasiswa tersebut. Perangkat itu menjadi penunjang utama dalam perkuliahannya, terutama untuk mengerjakan tugas dan proyek praktikum.
“Alhamdulillah, bisa beli laptop dari hasil menabung uang saku beasiswa. Sisanya saya bantu bayar Wi-Fi di rumah supaya internetan buat kuliah juga lancar,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski hidup dalam keterbatasan, Ibra membuktikan bahwa kondisi ekonomi bukan alasan untuk berhenti berprestasi. Ia berhasil mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78, salah satu syarat untuk tetap memperoleh beasiswa di semester berikutnya.
Baca Juga: Surabaya Kembali Raih WTP, Catat 14 Kali Berturut-turut
“Kalau mau beasiswanya lanjut, IPK harus di atas tiga. Jadi sekarang harus lebih giat belajar,” kata mahasiswa yang gemar berolahraga itu.
Bagi Ibra, beasiswa bukan hanya bentuk penghargaan, tapi juga tanggung jawab moral. Ia bertekad untuk menjaga kepercayaan pemerintah dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
“Kalau sudah dikasih kesempatan, berarti harus dibarengi usaha. Jangan sampai mengecewakan,” tegasnya.
Aktif di Karang Taruna
Selain berprestasi di kampus, Ibra juga aktif di lingkungannya. Ia tergabung dalam Karang Taruna di kampungnya dan kerap menjadi penggerak kegiatan anak muda. Mulai dari lomba-lomba untuk anak-anak, hingga kegiatan sosial yang melibatkan warga sekitar.
“Saya senang kalau bisa bikin lomba atau kegiatan bareng anak-anak kecil di kampung. Supaya mereka juga semangat dan kreatif,” ujarnya.
Bagi Ibra, kegiatan semacam itu adalah bentuk pengabdian kecil pada lingkungan tempatnya tumbuh.
“Kalau bisa bermanfaat untuk sekitar, rasanya lebih bahagia,” tambahnya.
Baca Juga: RICH Pakal, Kelas Inggris Gratis untuk Anak Diserbu Warga Surabaya
Dukungan dan Doa Sang Ayah
Sang ayah, Rawi, yang sehari-hari berjualan garam di sekitar pelabuhan, tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyadari bahwa perjuangan anaknya adalah hasil dari kerja keras dan kesabaran yang panjang.
“Alhamdulillah, meringankan sekali. Sekarang hampir 75 persen beban ekonomi berkurang karena beasiswa ini. Saya dulu susah sekolah, makanya anak saya harus bisa sekolah setinggi mungkin,” ujar Rawi dengan mata berkaca-kaca.
Rawi mengaku, sejak awal dirinya tidak pernah membatasi cita-cita Ibra. Meskipun hidup pas-pasan, ia selalu menanamkan nilai pentingnya pendidikan.
“Dulu saya pengin sekolah tapi nggak bisa, jadi anak saya harus bisa. Biar bisa hidup lebih baik dari orang tuanya,” tuturnya lirih.
Mimpi ke Jepang
Di sisa tiga semester kuliah yang tersisa, Ibra bertekad untuk lulus tepat waktu dan mewujudkan cita-cita (pn1).
Editor : Wasi