Muhammad Soleh: Santri Tekun, Mahasiswa Penuh Harapan yang Pulang dalam Duka

pusaran.net

pusaran.net - Senyum ramah Muhammad Soleh (22) kini tinggal kenangan. Santri sekaligus mahasiswa semester lima di Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, itu berpulang setelah berjuang melawan luka parah akibat tertimpa reruntuhan musala yang ambruk pada Senin (29/9/2025).

Bagi teman-temannya di pondok, Soleh adalah sosok sederhana dan mudah akrab. Setiap pagi, ia kerap terlihat sibuk menyiapkan diri untuk kuliah di kampus yang dikelola pesantren.

Baca juga: Program MBG, Terobosan Strategis Pemerintah Atasi Masalah Gizi

Meski padat dengan jadwal kuliah dan mengaji, Soleh tak pernah mengeluh. Ia dikenal tekun, rajin membantu kegiatan pondok, dan selalu punya semangat untuk terus belajar.

“Dia anaknya baik, ramah, dan selalu punya semangat. Kalau ada waktu luang, Soleh sering membantu adik-adik kelasnya belajar,” kenang salah satu sahabatnya di pondok.

Hari itu, ketika musibah datang, Soleh tengah khusyuk menjalankan salat Asar berjemaah bersama ratusan santri lain. Takdir berkata lain. Tubuhnya terhimpit reruntuhan beton.

Baca juga: Plafon Kelas Ambruk, Pemkot Surabaya Evaluasi Sarpras Sekolah

Tim medis bahkan terpaksa melakukan amputasi darurat di lokasi karena luka yang sangat parah. Meski sempat mendapat perawatan intensif, Soleh akhirnya mengembuskan napas terakhir di RSUD dr R.T. Notopuro.

Kakaknya, Akhmad, yang datang dari Bangka Belitung, tak kuasa menahan tangis. “Saya baru tiba pagi ini. Baru 30 menit setelah sampai, saya mendapat kabar adik saya meninggal,” ujarnya lirih.

Kepergian Soleh meninggalkan duka mendalam. Jenazahnya akan segera diterbangkan ke kampung halaman di Tanjung Pandan, Bangka Belitung, untuk dikebumikan bersama keluarga.

Baca juga: Surabaya Jadi Role Model Pengelolaan Anggaran dan Pajak Daerah

Di mata keluarga dan sahabat, Soleh adalah pribadi penuh cita-cita. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, sambil tetap mengabdikan diri di pondok pesantren. Namun, semua harapan itu terhenti di balik reruntuhan musala yang seharusnya menjadi tempat ibadah, bukan tempat terakhir bagi hidupnya.

Kini, doa-doa terus dipanjatkan. Di hati para santri, nama Soleh akan selalu dikenang sebagai syuhada musibah Al Khoziny—sosok muda yang pergi dengan senyum, meninggalkan teladan ketekunan dan kebaikan. (pn3)

Editor : Wasi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru