pusaran.net – Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mengajak masyarakat memperkuat semangat gotong royong sebagai bagian dari penguatan ketahanan sosial di tengah tekanan ekonomi global yang terus berlangsung.
Ajakan itu disampaikan Mufti saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pasuruan, pada 28 Juli 2025. Kegiatan ini diikuti beragam elemen masyarakat, mulai dari santri, aktivis perempuan, tokoh kampung, hingga penggiat budaya dari berbagai desa.
Baca juga: Idul Adha, PDIP Jatim Salurkan 468 Sapi Kurban
“Empat Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah fondasi kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Mufti, yang juga dikenal sebagai mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).
Menurut Mufti, konsep Empat Pilar yang diperkenalkan secara nasional oleh almarhum Taufiq Kiemas ketika menjabat Ketua MPR RI periode 2009–2014 ini, tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Ia menilai, nilai-nilai dalam Empat Pilar sangat kontekstual untuk menghadapi beragam persoalan, mulai dari geopolitik internasional, ketahanan pangan, hingga kesenjangan sosial dan persoalan ekonomi nasional yang kian kompleks.
Baca juga: MBG Dorong Gizi dan Ekonomi Warga Surabaya
“Ambil contoh Pancasila, yang merupakan ideologi bangsa, dasar negara, dan digali dari nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia. Ini bukan ide asing, tapi berasal dari rakyat dan budaya kita sendiri,” jelasnya.
Mufti juga menekankan pentingnya kembali menghidupkan semangat gotong royong di tengah kehidupan sosial. Menurutnya, gotong royong adalah solusi konkret atas berbagai persoalan, terutama dalam menjaga solidaritas sosial di lingkungan sekitar.
“Jangan biarkan tetangga kita kesusahan tanpa bantuan. Kepedulian terhadap sesama adalah bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila,” tambahnya.
Baca juga: Syaifuddin Zuhri Gantikan Almarhum Adi Sutarwijono Jabat Ketua DPRD Surabaya
Ia juga menyoroti pentingnya merawat kerukunan antar umat beragama dan antar suku.
“Perbedaan itu adalah kekayaan. Kita ini satu rumah besar yang namanya Indonesia. Kalau kita saling bermusuhan karena beda agama atau suku, bagaimana mungkin bangsa ini bisa maju?” tutupnya.
Editor : Wasi