pusaran.net - Warga Jawa Timur diminta meningkatkan kewaspadaan menjelang musim hujan 2026/2027. BNPB memberi perhatian khusus pada kawasan lereng bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur yang berpotensi memicu banjir bandang dan tanah longsor.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 253 kabupaten/kota di Indonesia rawan banjir dan 202 kabupaten/kota rawan longsor. Potensi penduduk terdampak mencapai 113,8 juta jiwa.
Baca Juga: Muhammadiyah Jatim Serukan Salat Istisqa, Ikhtiar Turunkan Hujan
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, pemetaan kerawanan tersebut didasarkan pada data historis bencana.
BNPB meminta pemerintah daerah mulai mengaktifkan rencana aksi menghadapi musim hujan pada November 2026. Kesiapan itu mencakup pembaruan rencana kontingensi, penentuan jalur evakuasi, pembagian tugas antarinstansi, serta pengecekan ketersediaan logistik.
Perhatian khusus perlu diberikan pada kawasan lereng yang terdampak karhutla, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kondisi tanah di wilayah bekas kebakaran perlu dipantau sejak awal musim hujan untuk mengantisipasi banjir bandang dan longsor.
Baca Juga: Verifikasi Bansos Surabaya Lewat Musyawarah RT
“Pemantauan sejak awal musim hujan penting dilakukan untuk mengantisipasi potensi banjir bandang dan longsor,” kata Berton dalam keterangan resmi BNPB.
Warga Diminta Pantau Peringatan Dini
Selain kesiapan pemerintah daerah, BNPB meminta masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi.
Warga juga diimbau menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, menghemat penggunaan air bersih, serta segera melaporkan kejadian bencana kepada petugas setempat.
Baca Juga: Warga Surabaya Diimbau Tidak Panik Hadapi Kasus Influenza A
BNPB turut meminta pemerintah daerah memastikan sistem peringatan dini berfungsi hingga tingkat desa. Kesiapan posko, perahu karet, tim reaksi cepat, pemantauan tinggi muka air, dan dapur umum juga perlu dipastikan sebelum puncak musim hujan.
Kesiapsiagaan sejak dini dan koordinasi lintas sektor diharapkan mampu menekan risiko serta meminimalkan dampak bencana bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor di Jawa Timur.
Editor : Wasi