Ramen Jepang-Korea Berebut Lidah Gen Z Surabaya

avatar pusaran.net

pusaran.net - Pertarungan bisnis kuliner lintas negara di Surabaya semakin sengit. Dua kekuatan budaya pop Asia, Jepang dan Korea, kini tidak hanya beradu popularitas di industri hiburan, tetapi juga berebut ruang di meja makan masyarakat, khususnya generasi muda.

Di tengah derasnya tren Korean Wave yang sempat membuat makanan Korea menjadi pilihan utama anak muda, kuliner Jepang justru menunjukkan daya tahan yang berbeda. Ramen, sushi, hingga beragam makanan Jepang terus bermunculan dan mempertahankan pasar di pusat-pusat perbelanjaan Surabaya.

Baca Juga: Aset Rp124 Miliar Kembali ke Pemkot Surabaya, Disiapkan untuk Dongkrak Ekonomi dan Kesejahteraan Warga

Fenomena itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemain baru maupun lama di industri food and beverage (F&B).

Haraku Ramen, misalnya, memilih masuk lebih dalam ke pasar Surabaya dengan strategi yang menyasar konsumen muda, terutama mereka yang baru memasuki dunia kerja dan sedang membangun karier.

Setelah membuka gerai keempatnya di kawasan Surabaya Raya, Haraku Ramen kembali mencoba merebut pasar dengan menawarkan ramen dengan harga di bawah Rp50 ribu, namun tetap mengedepankan kualitas rasa.

Assistant Marketing Manager Haraku Ramen, Samuel Jozephus Remiasa, mengatakan kuliner Jepang memiliki basis pasar yang relatif kuat di Surabaya. Bahkan, menurut dia, makanan Jepang menjadi salah satu kategori F&B yang dominan di pusat perbelanjaan.

“Japanese food di Surabaya dari dulu sampai sekarang trennya tetap sama. Kalau orang ke mal, makanan Jepang masih menjadi top of mind,” ujar Samuel.

Menurut Samuel, karakter rasa makanan Jepang juga relatif mudah diterima lidah masyarakat Indonesia, termasuk Surabaya. 

Perpaduan rasa gurih, pedas, serta penggunaan karbohidrat seperti mi membuat ramen memiliki kedekatan dengan pola makan masyarakat lokal.

Haraku bahkan mengembangkan menu berbasis nasi yang disebut Raishi untuk memperluas pilihan konsumen.

“Lidahnya juga cocok dengan orang-orang Indonesia, terutama Surabaya. Dengan kegurihan dan rasa pedasnya itu sangat cocok,” katanya.

Tak Sekadar Gen Z, Bidik Generasi yang Baru Merintis

Berbeda dengan strategi yang sekadar membidik anak muda secara umum, Haraku Ramen mengerucutkan target pasarnya kepada konsumen usia sekitar 25-35 tahun.

Kelompok ini disebut sebagai generasi yang sedang merintis kehidupan profesional—mulai dari fresh graduate, pekerja yang baru memulai karier, hingga pengusaha muda.

Strateginya pun dibuat mengikuti kemampuan daya beli kelompok tersebut.

Haraku Ramen menawarkan ramen dengan harga di bawah Rp50 ribu. Bahkan, pada Senin hingga Jumat pukul 14.00-17.00 WIB, tersedia promo ramen seharga Rp25 ribu yang dilengkapi free flow ocha.

“Kalau dikerucutkan lagi, target market Haraku Ramen antara 25 sampai 35 tahun. Orang-orang yang baru fresh graduate, baru kerja, sampai orang yang baru merintis usaha,” ujar Samuel.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa pertarungan F&B di Surabaya bukan semata soal siapa yang memiliki menu paling populer. Harga, pengalaman makan, lokasi, hingga kemampuan membaca perubahan perilaku konsumen muda menjadi senjata untuk memenangkan persaingan.

Baca Juga: SepaCC 112 Surabaya Tangani 2.375 Kejadian

Korean Wave Mulai Redup, Jepang Tetap Bertahan?

Samuel melihat ada perbedaan daya tahan antara tren makanan Jepang dan Korea di Surabaya. Menurut dia, kuliner Korea memang sempat mengalami lonjakan popularitas seiring masifnya Korean Wave. Namun, setelah euforianya mereda, tren tersebut dinilai tidak setinggi sebelumnya.

Sementara makanan Jepang dianggap memiliki pasar yang lebih konsisten.

“Kalau kita bandingkan dengan Korean food, kita bisa merasakan ada penurunan tren dari K-Wave yang sempat booming sangat kencang. Kalau Japanese food sendiri, pertumbuhannya selalu ada dan tetap konsisten,” jelasnya.

Meski demikian, Samuel tidak melihat persaingan Jepang dan Korea sebagai pertarungan yang sepenuhnya menentukan siapa yang akan menguasai pasar. Sebab, menurut dia, preferensi konsumen tetap bergantung pada karakter lidah masing-masing.

Namun, makanan Jepang dinilai memiliki satu keuntungan penting: penetrasinya ke masyarakat Indonesia sudah berlangsung jauh lebih lama.

Rahasia Jepang Lebih Mudah Diterima Lidah Indonesia

Samuel menilai cita rasa Jepang telah lama melekat dalam kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Salah satu kuncinya adalah kemampuan kuliner Jepang beradaptasi dengan karakter makanan lokal.

Ramen, misalnya, dapat dipadukan dengan sambal bercita rasa Indonesia. Begitu pula dengan konsep agemono atau makanan yang digoreng.
Adaptasi semacam itu membuat makanan Jepang tidak terasa terlalu asing bagi konsumen Indonesia.

Baca Juga: Terekam CCTV, Pria Pura-pura Jadi Pembeli Gasak 2 Dos Minyak

“Japanese food itu cita rasanya sudah lama melekat sebagai orang Indonesia. Apalagi ramen di-fusion dengan khasnya orang Indonesia, masuk banget,” katanya.

Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sangat dekat dengan makanan gorengan. Dari pisang goreng hingga tahu isi, makanan yang digoreng telah menjadi bagian dari keseharian.

Karakter tersebut kemudian dapat diserap ke dalam kuliner Jepang.

“Jepang punya agemono, seperti gorengan. Orang Indonesia makan gorengan pagi, siang, malam. Ketika di-infuse ke Japanese food, sangat masuk,” ujar Samuel.

Dengan karakter tersebut, Haraku Ramen melihat pasar kuliner Jepang di Surabaya masih memiliki ruang pertumbuhan.

Bukan pertumbuhan yang meledak secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan yang konsisten, ditandai dengan terus bermunculannya merek-merek baru makanan Jepang di berbagai pusat perbelanjaan.

Di tengah persaingan dengan Korean food yang pernah mendominasi tren anak muda, pertarungan berikutnya tampaknya bukan lagi sekadar soal negara mana yang paling populer.

Pertarungannya adalah siapa yang paling mampu menyesuaikan rasa, harga, dan gaya hidup dengan konsumen muda Surabaya.

Dan Jepang, melalui semangkuk ramen yang dibanderol terjangkau, tampaknya belum berniat menyerahkan meja makan itu kepada Korea. (pn1)

Berita Terbaru