RDTR Baru Surabaya Evaluasi Rencana Lama, Tol Tengah Ikut Dikaji

avatar pusaran.net

pusaran.net - Pemerintah Kota Surabaya mulai memasuki tahap akhir penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Surabaya. Dokumen yang akan menjadi salah satu penentu arah pembangunan kota itu kini memasuki fase pengumpulan masukan final sebelum dikonsultasikan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah pusat.

Menariknya, RDTR baru Surabaya tidak hanya berbicara soal pembagian kawasan pusat kota, permukiman, industri, ruang terbuka hijau (RTH), hingga jalur transportasi. Dokumen tersebut juga menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai rencana tata ruang lama yang selama bertahun-tahun tercantum di atas peta, tetapi tak kunjung terealisasi.

Baca Juga: Kawasan Ampel Darurat Pengemis, Wali Kota Eri : Satpol PP Tertibkan!

Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya, Reinhard Oliver, mengatakan tahapan konsultasi kali ini dilakukan untuk meminta masukan terakhir dari seluruh pemangku kepentingan terhadap rancangan yang telah disusun tim konsultan.

Sebelumnya, Pemkot Surabaya telah menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan konsultasi publik untuk menyerap masukan awal masyarakat serta para pemangku kepentingan.

"Ini agenda meminta masukan final dari hasil yang direncanakan oleh tim konsultan. Sebelumnya sudah ada FGD dan konsultasi publik pertama untuk mendapatkan masukan awal. Sekarang hasilnya sudah direncanakan oleh tim penyusun dan kami meminta masukan final dari seluruh stakeholder," kata Reinhard.

Masukan tersebut nantinya akan digunakan untuk menyempurnakan dokumen RDTR sebelum memasuki tahap konsultasi di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah pusat.

Bukan Sekadar Peta, RDTR Baru Diminta Lebih Realistis

Reinhard menegaskan, RDTR terbaru Surabaya diharapkan lebih implementatif dibandingkan dokumen sebelumnya.

Artinya, pemerintah tidak ingin lagi terlalu banyak rencana tata ruang yang hanya bertahan di atas kertas, sementara masyarakat harus menghadapi konsekuensi pembatasan pemanfaatan lahan selama bertahun-tahun.

Salah satu persoalan yang akan dievaluasi adalah keberadaan lahan warga yang selama ini terkena rencana pembangunan jalan maupun RTH, tetapi proyeknya tak kunjung direalisasikan.

"RDTR Kota Surabaya yang sekarang ini kami harapkan lebih implementatif, tidak hanya sekadar di atas kertas," ujarnya.

Menurut dia, rencana pembangunan jalan yang telah lama tercantum dalam tata ruang akan dievaluasi kembali, khususnya yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Surabaya.

Jika suatu rencana jalan belum juga direalisasikan dalam waktu lama, pemerintah akan mengkaji apakah kebutuhan ruangnya masih relevan atau apakah lebar jalan yang direncanakan memang masih diperlukan.

"Yang dulunya terkena rencana jalan tetapi sampai sekarang belum terealisasi, akan kita evaluasi apakah memang perlu rencana selebar itu," katanya.

Namun, untuk proyek yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, Pemkot Surabaya harus menyesuaikan dengan kebijakan dan perencanaan pemerintah di atasnya.

Surabaya Pusat Tetap Jadi Mesin Utama Aktivitas Kota

Dalam rancangan RDTR terbaru, Surabaya juga mulai memperjelas fungsi kawasan berdasarkan karakter dan peruntukannya.
Surabaya Pusat tetap diproyeksikan sebagai pusat utama kegiatan kota yang didukung kawasan Surabaya Utara, Selatan, Timur, dan Barat sebagai simpul-simpul kegiatan pendukung.

Reinhard mencontohkan kawasan sekitar Terminal Wonokromo dan Terminal Intermoda Joyoboyo sebagai bagian dari pusat pergerakan dan aktivitas perkotaan.

Konsep tersebut diharapkan dapat membentuk sistem kota yang lebih terintegrasi, di mana aktivitas tidak hanya bertumpu pada satu kawasan, tetapi didukung pusat-pusat kegiatan di berbagai wilayah Surabaya.

Dengan demikian, arah pembangunan tidak sekadar memusatkan aktivitas di jantung kota, tetapi juga memperkuat fungsi kawasan lain agar pertumbuhan Surabaya lebih merata.

Tol Tengah Masih Misteri, Surabaya Dorong Alternatif Tol Timur

Salah satu isu penting yang masuk dalam pembahasan tata ruang adalah rencana Tol Tengah Surabaya.

Reinhard mengatakan proyek tersebut tetap tercantum dalam struktur ruang karena mengacu pada RTRW nasional dan perencanaan tingkat provinsi. Namun, posisi Tol Tengah saat ini masih bersifat indikatif.

Artinya, trase atau jalur detail proyek tersebut belum dapat dipastikan karena perencanaan teknisnya belum ditetapkan secara rinci.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tegaskan Komitmen Digitalisasi Parkir Tepat Waktu Dan Transparan

"Secara struktur ruang sudah termasuk, tetapi secara pola ruang belum tergambar karena kita belum tahu perencanaannya seperti apa," katanya.

Di tengah ketidakpastian trase Tol Tengah, Pemkot Surabaya justru mendorong alternatif pembangunan jalur tol di sisi timur.

Harapannya, proyek alternatif tersebut dapat lebih dahulu direalisasikan dan mampu menjawab kebutuhan jaringan transportasi Surabaya.

"Harapan kami, tol itu bisa menjadi alternatif dari Tol Tengah. Kalau terealisasi dan ternyata sudah cukup, berarti tidak perlu lagi," ujar Reinhard.

Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah pusat.

Dengan kata lain, RDTR Surabaya belum menutup kemungkinan keberadaan Tol Tengah. Namun Pemkot Surabaya berharap pembangunan jalur alternatif dapat mengurangi kebutuhan pembangunan tol yang melintasi kawasan tengah kota.

Pakal Disiapkan Jadi Kawasan Strategis, Jalur Logistik Diarahkan ke Pinggiran

Wilayah Pakal dan kawasan Surabaya Barat juga menjadi bagian penting dalam rancangan tata ruang baru.

Menurut Reinhard, kawasan tersebut memiliki sejumlah fungsi, termasuk kawasan lindung dan kawasan yang terintegrasi dengan perkembangan Surabaya Barat.

Pemkot Surabaya ingin memaksimalkan wilayah timur dan barat sebagai jalur pergerakan logistik agar kendaraan berat tidak terus membebani kawasan tengah kota.

"Area timur maupun barat ingin kita maksimalkan dari jalur logistiknya supaya tidak membebani tengah kota," katanya.

Arah tersebut menunjukkan upaya Pemkot Surabaya untuk mengubah pola pergerakan barang di kota metropolitan tersebut.

Baca Juga: Koleksi Baru KBS, Kura-Kura Aldabra Raksasa Hadir untuk Pertama Kalinya

Jika jaringan logistik dapat dialihkan ke kawasan pinggiran, tekanan lalu lintas di pusat kota diharapkan dapat berkurang.

Kawasan Barat Juga Diproyeksikan untuk Pengelolaan Sampah

Selain transportasi dan kawasan lindung, wilayah Surabaya Barat juga masuk dalam pembahasan terkait pengelolaan sampah kota.

Reinhard mengungkapkan terdapat rencana pengembangan fasilitas pengolahan sampah di kawasan barat. Salah satu opsi yang pernah dibahas adalah pemindahan lokasi tempat pemrosesan akhir (TPA) ke wilayah Sumbersari yang mayoritas lahannya merupakan aset pemerintah.

Namun, rencana tersebut masih akan dikaji lebih lanjut, terutama dengan melihat perkembangan proyek pengolahan sampah yang sedang direncanakan.

Pemkot Surabaya juga mempertimbangkan optimalisasi kawasan sekitar Gelora Bung Tomo (GBT) dalam strategi penataan kawasan dan pengelolaan lingkungan.

"Memang ada rencana. Untuk TPA, ada wacana untuk memaksimalkan kawasan dan menggeser ke daerah Sumbersari yang mayoritas aset kita. Tapi kita lihat dulu pengolahan sampahnya seperti apa," ujarnya.

Masa Depan Surabaya Ditentukan dari Peta Baru

RDTR terbaru Surabaya pada akhirnya akan menjadi salah satu dokumen paling penting dalam menentukan wajah kota dalam beberapa tahun mendatang.
Mulai dari lokasi pusat kegiatan ekonomi, pembangunan jalan, kawasan lindung, jalur logistik, transportasi massal, ruang terbuka hijau, hingga masa depan Tol Tengah akan bergantung pada arah tata ruang yang kini sedang difinalisasi.

Pemkot Surabaya pun dihadapkan pada tantangan besar: memastikan peta pembangunan yang disusun kali ini benar-benar realistis dan dapat diwujudkan.

Sebab, tata ruang yang terlalu ambisius tetapi tak pernah direalisasikan bukan hanya membuat pembangunan tersendat, melainkan juga berpotensi membebani masyarakat yang lahannya bertahun-tahun terikat oleh rencana pembangunan yang tak kunjung datang.

RDTR baru Surabaya kini diharapkan menjadi titik balik: dari sekadar menggambar masa depan di atas peta, menjadi memastikan masa depan itu benar-benar bisa dibangun. (pn1)

Berita Terbaru