pusaran.net - Siapa sangka Jazz Traffic Festival 2025 bisa berubah jadi dangdut traffic? Begitu Denny Caknan naik panggung, suasana yang tadinya adem-adem jazz langsung mendidih. Meski genre musiknya bukan jazz, ribuan penonton tetap setia menunggu setengah jam sebelum ia tampil.
Malam itu, Sabtu (27/9/2025) penonton lupa kalau ini festival jazz, mereka sibuk bernyanyi, joget, dan teriak histeris seperti konser campursari di tengah kota. Begitu lagu pembuka Cundamani dilantunkan, suara penonton langsung bersahutan mengikuti irama.
Baca Juga: Surabaya Kembali Raih WTP, Catat 14 Kali Berturut-turut
“Halo Surabaya luar biasa. Saya mau menyanyikan lagu untuk kalian yang lagi sayang-sayangnya tapi ditinggal,” sapa Denny.
Dan melanjutkan dengan lagu Sigar. Penonton makin histeris ketika Dumes dibawakan, membuat penonton bergoyang sambil ikut bernyanyi, “Ra pengen liyane, pengenku siji mung kowe.”
Momen spesial terjadi ketika Denny mempersembahkan Sinarengan untuk istrinya, Bella Bonita. Sambil bernyanyi, ia melempar jaket ke arah penonton, lalu tiba-tiba menghadirkan Bella ke atas panggung. “Iki sing duwe lagu Cah,” ujarnya.
Baca Juga: RICH Pakal, Kelas Inggris Gratis untuk Anak Diserbu Warga Surabaya
Sepanjang penampilannya, Denny membawakan delapan lagu andalan, di antaranya Kartonyono, Pamer Bojo, Los Dol, Oplosan, dan Wirang. Di sela-sela lagu, ia beberapa kali bercanda dengan penonton.
"Sesekali kapan maneh Jazz Traffic joget yo Cah,” celetuknya.
Baca Juga: Buang Rumen Kurban ke Sungai Masih Terjadi
Penampilannya semakin segar berkat aransemen baru, intro unik, hingga gimmick menarik di sejumlah lagu lama yang sudah akrab di telinga penggemarnya.
Dan pada akhirnya, malam itu bukan soal genre. Jazz, dangdut, atau pop Jawa hanyalah label. Yang penting ribuan orang bisa larut dalam musik, tertawa, bernyanyi, dan pulang dengan hati penuh cerita. Kalau benar ini disebut penjajahan, maka Surabaya rela dijajah—asal oleh Denny Caknan. (pn3)
Editor : Wasi