pusaran.net – Penyidikan polisi terhadap dua pelaku pembakaran Gedung Negara Grahadi mengungkap fakta mengejutkan. Dari ponsel keduanya, aparat menemukan grup WhatsApp beranggotakan sekitar 70 orang yang diduga menjadi motor penggerak kericuhan saat demonstrasi berujung bentrokan pada Sabtu, 30 Agustus 2025.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Jules Abraham Abast, mengatakan percakapan di dalam grup itu berisi ajakan menghadiri demonstrasi bukan untuk menyampaikan pendapat, melainkan untuk memicu kerusuhan dan menyerang objek vital.
Baca Juga: Polda Jatim Sikat 320 Kasus Kejahatan Jalanan, 319 Tersangka Diciduk
“Dari pemeriksaan dua pelaku, kami menemukan percakapan yang jelas-jelas mengajak melakukan unjuk rasa, bukan sekadar aksi damai, tetapi upaya menciptakan kekacauan dan kerusuhan,” ujar Jules, Minggu (7/9/2025).
Salah satu target aksi anarkis adalah Gedung Negara Grahadi, ikon bersejarah sekaligus cagar budaya di Surabaya. Jules menyesalkan tindakan itu.
“Gedung Grahadi adalah simbol perjuangan arek-arek Surabaya melawan penjajahan. Upaya penyerangan terhadapnya jelas tindakan anarkis,” tegasnya.
Baca Juga: Keluarga Korban Sebut Alat Bantu Mati Saat Kebakaran RS Soetomo
Kelompok Serupa di Daerah Lain
Pola serupa juga ditemukan di beberapa wilayah Jawa Timur. Polisi mencatat adanya kelompok kecil terorganisir yang memprovokasi kerusuhan di Tulungagung dan Kediri.
“Di Tulungagung ada indikasi yang sama. Bahkan di Kediri Kota ada upaya pembakaran Mapolres oleh kelompok kecil yang sudah kami amankan,” ungkap Jules.
Baca Juga: Polisi Selidiki Kebakaran RSUD dr Soetomo
Mayoritas pelaku kericuhan pada 29–30 Agustus 2025 ternyata anak-anak di bawah umur. Mereka mengaku diajak melalui grup percakapan dan terprovokasi konten di media sosial.
Polisi Buru Aktor Intelektual
Polda Jatim kini fokus memburu aktor intelektual di balik kericuhan. Aparat mendalami dugaan afiliasi kelompok perusuh dengan kode ACAB dan 1312 yang kerap muncul dalam narasi aksi anarkis. (pn1).
Editor : Wasi