Pusaran.Net - Jawa Timur jadi provinsi tempat penyebaran HIV/AIDS tertinggi kedua di Indonesia.Tercatat jumlah penderita HIV di Jawa Timur mencapai 43.399 orang sejak 1987 hingga Juni 2018 kemarin.
Pernyataan itu, dikatakan Ketua Jaringan Indonesia Positif (JIP), Setio Budianto saat ditemui di sela acara Focal Poin bersama komunitas peduli HIV AIDS di Surabaya, Jumat (22/02/2019).
"Itu data Juni 2018. Untuk data terbaru kita belum update mas. Tapi kemungkinan ada kenaikan. Nanti saya kirimi datanya mas",ungkapnya.
Selain penderita HIV, lanjut Budi, Jatim juga jadi provinsi tertinggi kedua yang memiliki penderita AIDS. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosalisasi door to door ke rumah - rumah warga. Tujuannya agar masyarakat semakin melek dan paham penyakit HIV AIDS .
"Selain diskusi seperti ini, kita juga sering bergerak 'door to door' sapa warga untuk sosalisasi bahaya virus HIV AIDS",katanya.
Untuk itu, pihaknya mengharapkan peran aktif pemerintah baik pusat maupun daerah. Khususnya, Pemprof Jatim harus hadir di tengah - tengah masyarakat, baik yang belum terjangkit HIV AIDS maupun penderita.
"Saya berharap bu Khofifah selaku gubernur baru di Jatim lebih peduli dalam penanggulangan HIV AIDS di Jatim. Karena Jatim masuk katagori 'zona merah' HIV AIDS di Indonesia",ujarnya.
Salah satu pencegahannya adalah persedian obat Antiretroviral (ARV) selalu tersedia. Karena hanya Obat ARV mampu menekan jumlah virus HIV di dalam darah sehingga kekebalan tubuhnya (CD4) tetap terjag.
"Hanya obat ARV yang mampu nekan jumlah virus HIV di dalam tubuh",jelas Budi.
Menurutnya, Virus HIV tidak mudah menular, karena hanya dapat ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh, serta dari ibu hamil yang positif dengan HIV dapat menularkan kepada bayinya.
"Makanya, kalau berhubungan seksual dengan pasangan selain istri sah (jajan) gunakan kondom. Kasihan yang jadi korban adalah istri-nya",pasannya.
Perlu diketahui bahwa virus HIV tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, gigitan nyamuk/ serangga, menggunakan alat makan bersama, bersalaman/ berpelukan, ataupun tinggal serumah dengan ODHA.
Karenanya, berperilaku hidup bersih dan sehat dapat mencegah terjadinya penularan HIV dan tidak perlu menjauhi ODHA. Untuk itu, menjadi ODHA Terinfeksi HIV bukanlah penghalang untuk bersosialisasi, bekerja, dan berkeluarga.(pn2)
Editor : Pak RW