pusaran.net - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya menargetkan Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar memiliki 100 jenis mangrove pada tahun depan. Target tersebut menjadi fokus pengembangan memasuki usia ketiga KRM untuk memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat riset biodiversitas mangrove.
Saat ini, KRM Gunung Anyar telah memiliki 74 jenis mangrove. Selain menambah populasi tanaman melalui penanaman rutin, BRIDA juga akan memperkaya keanekaragaman hayati (biodiversitas) dengan mendatangkan spesies yang belum dimiliki.
Baca juga: 2.000 Pelari Ramaikan SIER Mangrove Eco Run 3.0
Kepala BRIDA Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan, penanaman mangrove akan terus dilakukan setiap tahun. Namun, sasaran utama pengembangan ke depan adalah meningkatkan jumlah spesies mangrove yang tersedia sebagai bahan penelitian. "Kalau populasi dari jenis jumlahnya kita terus bertambah, kan tiap tahun menanam terus," ujar Agus, Selasa (28/7/2026).
Menurut Agus, BRIDA akan melakukan ekspedisi ke berbagai daerah untuk mencari jenis mangrove yang belum ada di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan koleksi dari 74 jenis menjadi sekitar 100 jenis.
"Nah, target yang lain adalah biodiversity, keanekaragamannya. Tahun ini kita kan punya 74 Jenis. Kita berharap semoga tahun depan bisa tambah jadi 100. Kita nanti berburu, ber-ekspedisi ke banyak tempat yang punya jenis mangrove yang belum ada di sini, untuk ditanam di sini," katanya.
Ia menegaskan, penambahan jenis mangrove tidak semata-mata untuk memperkaya koleksi tanaman. Keberagaman spesies tersebut dibutuhkan karena KRM Gunung Anyar dikelola BRIDA sebagai kawasan yang berorientasi pada riset dan inovasi.
"Jadi buat penelitian. Karena pengampu dari Kebun Mangrove ini adalah BRIDA. BRIDA core-nya adalah riset. Maka, harus menyediakan banyak spesies untuk bahan riset," paparnya.
Baca juga: BRIDA Surabaya Ubah Sampah Plastik Mangrove Jadi Bahan Bakar
Agus menjelaskan, pengembangan kawasan mangrove di Surabaya dilakukan melalui pembagian peran antarperangkat daerah. Kawasan mangrove di Romokalisari, Tambak Sarioso, Asemrowo, dan wilayah pesisir lainnya tetap difokuskan sebagai kawasan konservasi yang dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
"Kalau untuk konservasi, itu tetap ada di sana. Dan yang menghandle dinas yang terkait, katakanlah Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)," paparnya.
Sementara itu, BRIDA memusatkan kegiatan riset di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar dengan memperbanyak variasi jenis mangrove sebagai objek penelitian.
"Kalau yang untuk BRIDA, di sini (KRM). Karena kalau BRIDA fokusnya tidak hanya untuk konservasi, tapi juga riset. Di sana enggak (riset), nah konservasinya dikuati. Terus risetnya di sini (KRM)," tuturnya.
Baca juga: Gerakan Hijau Pelajar Surabaya: 18.200 Mangrove Demi Lindungi Pantai
Menurut Agus, kawasan konservasi tidak harus memiliki banyak jenis mangrove selama mampu membentuk ekosistem yang rapat dan berfungsi menjaga lingkungan pesisir. Sebaliknya, KRM Gunung Anyar memerlukan lebih banyak variasi spesies karena berfungsi sebagai pusat penelitian.
"Di sana berarti kan kalau misalkan hanya 10 jenis saja, enggak apa-apa. yang penting banyak, yang penting menimbulkan kerimbunan pepohonan, itu bagus. Di sini (KRM), jenisnya yang diperbanyak, karena untuk riset. Itu bedanya," jelasnya.
Meski memiliki fokus yang berbeda, Agus memastikan pengembangan kawasan mangrove di Surabaya tetap dilakukan secara kolaboratif antarperangkat daerah. "Jadi kita (BRIDA) fokus di sini (KRM). Di sana kita berbagi (kolaborasi) dengan dinas yang lain," pungkasnya. (pn2)
Editor : Wasi