Konferda–Konfercab Serentak, PDIP Tegaskan Soliditas Hadapi Tantangan Politik

pusaran.net
Foto : Surokim Abdussalam Pengamat Politik Universitas Teunojoyo Madura

pusaran.net - Pengamat Politik Universitas Trunojoyo, Madura, Surokim Abdussalam menegaskan pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan secara serentak di 38 kabupaten/kota dinilai sebagai pesan komunikasi politik yang kuat dari partai berlambang banteng tersebut. Langkah ini mencerminkan upaya serius PDIP dalam menegaskan soliditas organisasi, disiplin struktural, serta kontrol komando dari pusat hingga daerah.

Seorang kader internal PDIP Jawa Timur menilai, pelaksanaan konferensi secara serentak menunjukkan bahwa PDIP bukan partai yang berjalan sendiri-sendiri di daerah, melainkan satu organisasi yang bergerak dalam satu ritme dan satu garis ideologis.

Baca juga: PAC PDIP Tuban Dilantik, Cium Merah Putih dan Tanam Sukun

“Ini pesan bahwa PDIP ingin seluruh struktur bergerak sefrekuensi. Penekanan pada disiplin, ketertiban, dan soliditas tegak lurus menjadi penguatan organisasi untuk menghadapi situasi politik yang berubah sangat cepat dan tantangan eksternal yang semakin kompleks,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).

Terkait potensi dinamika internal, ia mengakui bahwa konferensi di tingkat daerah kerap diwarnai tarik-menarik kepentingan, terutama menyangkut regenerasi dan posisi strategis kepengurusan. Namun, dinamika tersebut dinilai sebagai bagian dari proses pendewasaan organisasi.

“Konflik perebutan jabatan itu hal biasa dalam partai politik. Yang penting adalah bagaimana mekanisme berjalan tertib dan keputusan diterima sebagai keputusan bersama. Dengan struktur komando yang kuat, potensi gesekan antarkader bisa dimitigasi dan tidak berkembang menjadi friksi terbuka,” katanya.

Surokim juga menekankan pentingnya substansi demokrasi internal dalam Konfercab. Menurutnya, demokrasi tidak semata dimaknai sebagai pemilihan langsung, tetapi lebih pada keterbukaan proses, akuntabilitas keputusan, serta kesediaan kader untuk menerima hasil konferensi dengan sikap legowo.

“Kesediaan menghargai proses jauh lebih bermakna daripada sekadar kontestasi jabatan. Semua kader punya kesempatan, tetapi juga harus teruji, baik dari arus dukungan bawah maupun kepercayaan dari struktur di atasnya,” jelasnya.

Baca juga: Peringati 1 Juni, PDIP Surabaya Gaungkan Nilai Pancasila Dikalangan Gen Z

Dalam konteks komunikasi politik, PDIP dinilai tetap membutuhkan satu narasi ideologis besar sebagai identitas partai. Namun, narasi tersebut harus disampaikan secara kontekstual sesuai karakter wilayah. Di Jawa Timur yang majemuk dan inklusif, pendekatan komunikasi yang sensitif terhadap budaya dan kebutuhan lokal justru akan memperkuat pesan ideologis partai.

“Narasi ideologi harus mudah dipahami publik dan bisa diterjemahkan dalam aksi nyata. Pendekatan populis harus dibarengi empati dan keberpihakan pada arus bawah, yang selama ini menjadi kekuatan ideologis PDIP,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa penguatan ideologi hanya akan bermakna jika diterjemahkan dalam kerja konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan pemberdayaan ekonomi.

“Ideologi tidak cukup dibahas dalam forum internal. Ia harus hadir dalam kebijakan dan keberpihakan nyata. PDIP harus terus hadir dan membersamai konstituennya agar tetap relevan dan dibutuhkan publik,” katanya.

Baca juga: Idul Adha, PDIP Jatim Salurkan 468 Sapi Kurban

Adapun tantangan terbesar PDIP ke depan, menurutnya, bukan semata persaingan antarpartai, melainkan perubahan perilaku pemilih yang semakin cair dan rasional. Pemilih kini lebih menilai kinerja dan manfaat nyata dibanding sekadar identitas ideologis.

“Karena itu, konsistensi antara nilai, program, dan kinerja menjadi kunci. PDIP membutuhkan semangat pembaruan agar api perjuangan terus menyala lintas generasi, terutama di kalangan kader Gen Z yang kelak memegang peran kepemimpinan strategis,” pungkasnya. (pn2)

 

Editor : Wasi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru