pusaran.net - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam pelaksanaan uji coba program pendataan Perlindungan Sosial (Perlinsos) berbasis digital.
Sistem digitalisasi bantuan sosial (bansos) ini digadang-gadang menjadi solusi untuk menghapus inclusion error dan exclusion error yang selama ini terjadi pada penyaluran bansos di Indonesia.
Baca Juga: Kepala Bakom RI Puji Efektivitas Digitalisasi Bansos di Surabaya
Apresiasi tersebut disampaikan Qodari saat meninjau langsung proses pendataan dan uji coba aplikasi di Kantor Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Selasa (28/7/2026).
Dalam keterangannya, Qodari menegaskan bahwa digitalisasi bansos merupakan program strategis Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan anggaran perlindungan sosial yang mencapai Rp1.300 triliun atau 30 persen dari APBN benar-benar tepat sasaran dan adil.
“Prinsipnya harus adil kepada yang berhak menerima dan yang tidak layak tidak boleh menerima. Selama ini ada inclusion error atau mereka yang tidak berhak malah masuk dan exclusion error yang berhak malah terlewat," ujar Qodari.
Ia mengungkapkan, dari total lebih dari 1 juta Kepala Keluarga (KK) di Surabaya, dalam aplikasi Sayang Warga yang diterapkan di Kota Pahlawan sebanyak 334.560 KK didaftarkan via agen Perlinsos yang terdiri dari ASN,RT/RW, Petugas PKH dan 62.673 KK mendaftar secara mandiri.
“Di Surabaya ada sebanyak 119.000 KK yang berhak menerima bantuan, dan hebatnya lagi ada yang menolak karena sadar diri tidak berhak menerima bansos sebanyak 359.856 KK,”terangnya.
Dari data lama yang mencatat 101.000 KK penerima bansos di Surabaya, terbukti terjadi inclusion error sebesar 25 persen atau sekitar 25.000 KK, yang tidak berhak dan akhirnya dikeluarkan dari data.
Di sisi lain, sistem baru ini berhasil menjaring 51.000 KK penerima baru atau sekitar 43 persen dari total 119.000 KK yang selama ini terabaikan (exclusion error).
Baca Juga: Disdukcapil Surabaya: Alamat Rumah Kos Berlaku Selama Masa Sewa
“Bayangkan, ada sekitar 51.000 KK atau setara 175.000 jiwa yang selama ini harusnya dapat tapi tidak menerima. Hari ini mereka mendapatkan keadilan lewat digitalisasi perlinsos," tegasnya.
Dalam peninjauan tersebut, Qodari turut mencoba langsung alur pendaftaran warga berbasis face recognition yang terintegrasi dengan data KTP elektronik. Sistem ini secara otomatis melakukan cross-check data kepemilikan aset dengan berbagai instansi, seperti daya listrik (PLN), kepemilikan kendaraan (Kepolisian), hingga kepemilikan tanah (ATR/BPN).
"Sistem ini sangat adil karena yang menjawab adalah mesin dan data lintas kementerian/lembaga. Tidak ada lagi subjektivitas. Kalau ada sanggahan, bisa langsung diajukan di sistem," jelas Qodari.
Ia juga memuji pola kolaborasi Pemkot Surabaya yang menerjunkan seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga Kepala Dinas untuk mendampingi kecamatan dan kelurahan, sehingga capaian pendataan di Surabaya telah mendekati 100 persen.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kota Surabaya, Eddy Christijanto, menjelaskan bahwa Pemkot Surabaya pendaftaran Perlinsos di Surabaya telah mencapai 99,74 persen (hampir 100 persen), dan hanya menyisakan sekitar 2.610 KK.
Baca Juga: 2.000 Pelari Ramaikan SIER Mangrove Eco Run 3.0
Dari total 1.003.068 KK di Surabaya, sebanyak 1.000.458 KK telah terjangkau melalui aplikasi Sayang Warga. Untuk pendafataran Perlinsos, Pemkot Surabaya menyiapkan 13.049 agen untuk memfasilitasi pendaftaran warga yang belum memiliki Identitas Kependudukan Digital (IKD).
Mengenai kendala di lapangan, Eddy mengakui sempat terjadi perlambatan sistem (loading) pada masa awal uji coba, namun saat ini perbaikan infrastruktur membuat proses verifikasi berjalan jauh lebih cepat.
"Saat ini proses verifikasi sudah langsung keluar hasilnya. Kita masih menyisakan sekitar 2.610 KK yang belum terdata, terbanyak di Kelurahan Dukuh Setro. InsyaAllah dalam 1 sampai 2 hari ke depan target 100 persen akan tuntas," terang Eddy.
Untuk diketahui, uji coba Perlinsos di Surabaya dimulai sejak 4 Juni 2026 dan menjadi pilot project nasional. Pada tahap awal, sistem memproses dua jenis program perlinsos, yang nantinya akan dikembangkan hingga mencakup tujuh jenis bantuan sosial secara menyeluruh di seluruh Indonesia. (*)
Editor : Wasi