pusaran.net - Penangkapan Wali Kota Madiun, Maidi, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memicu perubahan drastis dalam peta politik Kota Pendekar.
Situasi ini dinilai menjadi "angin segar" atau keuntungan politik tak terduga (political windfall) bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Baca Juga: Gerindra Jatim: Wali Kota Maidi Bukan Kader Partai
Pasalnya, Wakil Wali Kota Madiun saat ini, Bagus Panuntun, yang merupakan kader sekaligus Ketua DPW PSI Jatim, berpotensi besar naik takhta menggantikan Maidi tanpa perlu bertarung ulang dalam Pilkada.
Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair), Dr. Fahrul Muzaqqi, menilai insiden hukum yang menimpa Maidi secara otomatis memberikan panggung strategis bagi wakilnya.
"Secara langsung atau tidak langsung tentu akan berimplikasi pada partai politik utama yang mengusung. Terlepas dari kasus yang menimpa Pak Maidi, di sisi lain ini jadi keuntungan bagi Bagus Panuntun dan PSI," ujar Fahrul saat dihubungi, Selasa (20/1).
Fahrul menjelaskan, mekanisme Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur secara otomatis pengisian kekosongan jabatan. Jika Wali Kota berhalangan sementara (ditahan) atau tetap, maka Wakil Wali Kota otomatis naik jabatan.
Kondisi ini, menurut Fahrul, adalah "jackpot" kekuasaan. PSI mendapatkan kursi eksekutif tertinggi di kota secara "gratis".
Baca Juga: Bagus Panuntun Jadi Plt Wali Kota Madiun
"Ketika Bagus naik, ada keuntungan bagi Bagus sendiri maupun keuntungan politik yang dimaksimalkan untuk periode ke depan," imbuhnya.
Dengan beralihnya kendali penuh kebijakan strategis Kota Madiun ke tangan kader PSI, muncul pertanyaan mengenai hubungan PSI dengan Partai Gerindra—partai yang menaungi Maidi. Apakah akan terjadi keretakan?
Menanggapi hal tersebut, Fahrul menyebut dinamika politik sangat cair. Meski kekuasaan beralih, bukan berarti koalisi otomatis pecah.
Baca Juga: KPK Ringkus Wali Kota Madiun dalam OTT, Dugaan Suap Proyek dan CSR
"Segala kemungkinan tetap saja bisa terjadi ya. Jadi saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Artinya tidak lantas Pak Maidi (ditangkap) kemudian konsekuensinya terhadap Gerindra ya (pecah kongsi). Bisa saja saat Bagus naik, Gerindra tetap support. Bisa juga," paparnya.
Namun yang pasti, Fahrul menggarisbawahi bahwa legitimasi kemenangan besar pasangan "MADIUN" (Maidi-Panuntun) pada Pilkada 2024 kini "diwariskan" sepenuhnya kepada PSI.
"Jika Maidi 'gugur' di tengah jalan, PSI yang mewarisi legitimasi suara tersebut sendirian. Ini jelas memperkuat posisi tawar PSI di peta politik Jawa Timur," pungkasnya.(pn2)
Editor : Wasi