pusaran.net – Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, kembali menegaskan pentingnya pengamalan Empat Pilar Kebangsaan sebagai pegangan bersama dalam menghadapi situasi nasional yang penuh tantangan. Hal tersebut ia sampaikan saat kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama berbagai unsur masyarakat Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang berlangsung pada 13 Desember 2025.
Dalam pertemuan tersebut, Mufti menilai Indonesia tengah berada pada fase yang tidak ringan. Beragam persoalan global dan domestik, mulai dari ketidakpastian ekonomi dunia, ancaman terhadap ketersediaan pangan, hingga tekanan sosial di tingkat akar rumput, membutuhkan sikap kolektif yang berlandaskan nilai kebangsaan.
Baca Juga: PAC PDIP Tuban Dilantik, Cium Merah Putih dan Tanam Sukun
“Di tengah kondisi yang serba sulit, kita perlu kembali menguatkan semangat kebersamaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan menjadi penopang agar bangsa ini tidak mudah goyah,” tutur Mufti di hadapan peserta kegiatan.
Ia menjelaskan bahwa gagasan Empat Pilar Kebangsaan merupakan warisan pemikiran almarhum Taufiq Kiemas saat memimpin MPR RI pada periode 2009–2014. Pilar-pilar tersebut mencakup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, serta komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Mufti, Pancasila memiliki kedudukan yang sangat fundamental karena berfungsi sebagai ideologi negara sekaligus panduan hidup berbangsa dan bernegara. Ia menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila berakar kuat pada budaya dan kearifan lokal Nusantara, sebagaimana disampaikan Bung Karno dalam pidato bersejarah 1 Juni 1945.
Baca Juga: Peringati 1 Juni, PDIP Surabaya Gaungkan Nilai Pancasila Dikalangan Gen Z
“Pancasila bukan konsep impor. Ia lahir dari pengalaman dan nilai luhur masyarakat Indonesia sendiri, sehingga relevan untuk menjawab persoalan yang kita hadapi,” ujarnya.
Lebih jauh, Mufti mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali praktik gotong royong dan solidaritas sosial di lingkungan masing-masing. Ia menilai kepedulian terhadap sesama menjadi kunci agar tidak ada warga yang tertinggal, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok.
“Perhatikan kondisi sekitar kita. Jika ada tetangga yang kesulitan, jangan ragu untuk membantu. Kepedulian kecil bisa berdampak besar bagi ketahanan sosial kita,” kata mantan Ketua HIPMI Jawa Timur itu.
Baca Juga: Idul Adha, PDIP Jatim Salurkan 468 Sapi Kurban
Tak hanya itu, Mufti juga menyoroti pentingnya menjaga keharmonisan di tengah keberagaman. Ia mengingatkan bahwa perbedaan suku, agama, dan latar belakang sosial merupakan kekayaan bangsa yang harus dirawat, bukan dipertentangkan.
“Persatuan adalah modal utama untuk kemajuan. Jika perbedaan justru memicu konflik, maka pembangunan bangsa dan daerah akan terhambat,” pungkasnya. (pn2)
Editor : Wasi