pusaran.net - Sekolah Rakyat di kawasan Kedung Cowek Surabaya tidak hanya dirancang sebagai tempat menimba ilmu. Sistem pendidikan yang diterapkan juga diarahkan untuk membentuk kemandirian, kedisiplinan, integritas, dan karakter anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Konsep tersebut mendapat apresiasi dari Komisi D DPRD Kota Surabaya saat melakukan kunjungan kerja untuk melihat langsung kesiapan fasilitas, sistem pembelajaran, serta pola pembinaan siswa di sekolah tersebut.
Baca juga: SIER Raih Indonesia PR Award 2026, Bukti Citra Positif Terjaga
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes, menilai fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat Kedung Cowek cukup memadai untuk menunjang proses pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik.
“Pertama kali kami melihat sekolah ini, tempatnya sangat bagus dan seluruh peralatannya juga sangat baik. Walaupun baru diserahterimakan beberapa hari yang lalu, fasilitas yang tersedia sudah sangat memadai,” ujar dr. Michael.
Menurut dia, keunggulan Sekolah Rakyat terletak pada konsep pendidikannya yang menyentuh berbagai aspek kehidupan siswa. Anak-anak yang tinggal di asrama tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik, tetapi juga kebutuhan makan tiga kali sehari, fasilitas belajar, kegiatan keagamaan, olahraga, hingga pembinaan karakter.
Untuk siswa muslim, misalnya, sekolah menyediakan kegiatan mengaji rutin tiga kali dalam sepekan. Sementara siswa nonmuslim juga mendapatkan ruang dan pendampingan untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.
Pola kehidupan di asrama juga diarahkan untuk melatih kemandirian. Siswa dibiasakan menjaga kebersihan kamar, asrama, dan ruang belajar secara mandiri. Para guru pun memberikan contoh melalui jadwal piket kebersihan di lingkungan ruang guru.
“Yang menarik, kebersihan di dalam lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab anak-anak. Mereka dilatih mandiri. Sementara guru-guru juga memberikan teladan dengan memiliki jadwal piket kebersihan di ruang guru,” katanya.
Pembentukan karakter juga diperkuat melalui pendampingan dari pembina Taruna Angkatan Laut. Para siswa mendapatkan pembiasaan mengenai disiplin, kebersihan, integritas, dan tanggung jawab.
“Saya merasa salut. Penilaian saya sangat baik. Anak-anak sejak awal diajarkan mengenai character building, mulai dari disiplin, menjaga kebersihan, integritas hingga tanggung jawab. Mudah-mudahan mereka menjadi bibit-bibit bangsa yang berkualitas,” ungkap dr. Michael.
Meski secara umum memberikan penilaian positif, Komisi D masih menemukan sejumlah kebutuhan yang perlu diperkuat. Salah satunya tenaga pendamping siswa.
Idealnya, satu pembimbing mendampingi sekitar 15 anak. Namun, karena keterbatasan sumber daya manusia, saat ini satu pembimbing masih menangani lebih dari 20 siswa.
Baca juga: 400 Talenta Muda Sepak Bola Siap Warisi Api
“Ke depan tentu masih diperlukan penambahan tenaga pendamping agar proses pembinaan terhadap anak-anak dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Selain pendamping, fasilitas penunjang seperti Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan petugas yang membantu penataan serta kebersihan area luar sekolah juga dinilai masih diperlukan.
Aspek psikologis siswa juga menjadi perhatian. Terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar yang harus tinggal jauh dari orang tua.
Pihak sekolah telah menyediakan waktu khusus bagi keluarga untuk mengunjungi siswa. Langkah tersebut dinilai penting karena rasa rindu terhadap keluarga menjadi salah satu tantangan bagi anak-anak yang baru memasuki kehidupan asrama.
“Anak-anak seusia SD tentu masih sangat merindukan orang tua. Karena itu sekolah memberikan waktu khusus bagi keluarga untuk berkunjung,” katanya.
Dr. Michael menilai keberadaan Sekolah Rakyat memiliki tujuan yang lebih besar dibanding sekadar memberikan akses pendidikan. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga kurang mampu melalui pendidikan anak.
Baca juga: Dua Legenda Timnas Pantau Talenta Muda di Soekarno Cup 2026
“Menurut saya, ini adalah cara pemerintah memberdayakan keluarga-keluarga yang kurang mampu melalui pendidikan anak-anak mereka. Ketika anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, karakter yang kuat, dan kesempatan melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, maka mereka akan menjadi motor penggerak perubahan bagi keluarganya,” tuturnya.
Ia berharap para siswa tidak berhenti pada jenjang SD, SMP, maupun SMA, tetapi memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dengan bekal pendidikan dan karakter yang kuat, para siswa diharapkan kelak mampu menjadi generasi mandiri sekaligus membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarganya.
“Semoga program yang sangat baik ini benar-benar mampu mengangkat anak-anak dari keluarga kurang mampu menjadi generasi yang mandiri dan berdaya. Dari anak-anak inilah nantinya lahir keluarga-keluarga yang memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia. Sementara proses seleksi dan penjaringan calon siswa di Surabaya dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Surabaya.
Dalam kunjungannya, Komisi D juga menyampaikan apresiasi kepada pengelola Sekolah Rakyat Kedung Cowek, Dinas Sosial Kota Surabaya, para pembina Taruna Angkatan Laut, petugas PUPR, serta seluruh tenaga pendukung yang terlibat dalam penyelenggaraan program tersebut. (ADV)
Editor : Wasi