pusaran.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 yang dimulai pada 13 Juli 2026 berlangsung ramah anak sekaligus menjadi ruang pembentukan karakter.
Tak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, MPLS tahun ini juga akan diisi edukasi tentang bahaya narkotika, keamanan bermedia digital, hingga penguatan peran orang tua dalam mendampingi anak.
Baca juga: Pengamat: Mutasi Lurah Tambak Wedi Jadi Momentum Benahi Aset
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan seluruh sekolah negeri maupun swasta telah menerima sosialisasi terkait pelaksanaan MPLS sesuai ketentuan Permendikdasmen. Karena itu, seluruh rangkaian kegiatan dipastikan berorientasi pada kenyamanan dan keamanan peserta didik baru, tanpa praktik perpeloncoan.
"MPLS harus menjadi ruang belajar yang menyenangkan, bukan seperti praktik perploncoan di masa lalu. Tidak ada lagi kegiatan yang membebani siswa. Kami ingin anak-anak mengenal sekolah sebagai rumah kedua yang harus mereka pahami dan cintai," kata Febri sapaan akrabnya, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, selama sepekan MPLS siswa akan diperkenalkan dengan budaya sekolah, metode pembelajaran, program unggulan, tenaga pendidik, hingga berbagai fasilitas yang tersedia. Pengenalan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki sekaligus tanggung jawab menjaga lingkungan sekolah.
Namun, Surabaya tidak hanya memanfaatkan MPLS sebagai ajang adaptasi di lingkungan pendidikan. Tahun ini, Dispendik juga menggandeng sejumlah instansi, termasuk Badan Narkotika Nasional (BNN), untuk memberikan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika, penggunaan gawai secara bijak, serta kewaspadaan terhadap berbagai ancaman di ruang digital.
“Materi tersebut penting mengingat anak-anak saat ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital. Karena itu, sekolah juga akan membekali siswa dengan pengetahuan mengenai cara mengenali konten berbahaya, ajakan negatif di media sosial, hingga modus penipuan digital,” terangnya.
Selain menyasar siswa, Dispendik menilai keberhasilan pendidikan karakter juga bergantung pada keterlibatan keluarga. Oleh sebab itu, orang tua akan diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun komunikasi yang intens dengan anak selama masa pertumbuhan.
Baca juga: Kara Harps Gelar Summer Class 2026, Hadirkan Pengajar Internasional di Surabaya
"Ketika anak sudah berada di rumah, orang tua perlu mengajak mereka berinteraksi, berdialog, dan mendengarkan cerita mereka. Hal sederhana seperti menanyakan kegiatan di sekolah dapat membuat anak merasa diperhatikan," ujarnya.
Ia juga mengimbau orang tua lebih aktif mendampingi penggunaan telepon genggam dan media sosial anak. Menurutnya, pembatasan penggunaan gawai harus diimbangi dengan kehadiran orang tua melalui interaksi dan waktu berkualitas bersama keluarga.
Di sisi lain, Dispendik mendorong terbangunnya komunikasi dua arah antara sekolah dan orang tua sebagai langkah deteksi dini apabila terjadi perubahan perilaku pada anak. Jika ditemukan gejala seperti lebih sering menyendiri, mudah membantah, atau menunjukkan kebiasaan yang tidak biasa, sekolah dan keluarga diharapkan segera berkoordinasi agar penanganan dapat dilakukan sejak awal.
"Komunikasi antara orang tua dan sekolah menjadi kunci. Jika ada perubahan perilaku, informasi dari rumah dan sekolah bisa dicocokkan sehingga penyebabnya dapat diketahui lebih awal. Bila diperlukan, sekolah juga akan menghadirkan psikolog atau pendamping profesional," jelasnya.
Baca juga: Pemkot Surabaya Buldoser 192 Lapak Tak Berizin di Pagesangan
Selain mengenalkan lingkungan sekolah, MPLS juga akan menjadi ruang penguatan karakter peserta didik melalui pendidikan agama dan berbagai edukasi tentang tantangan di era digital.
“Kami menggandeng aparat kepolisian, kepolisian siber, serta sejumlah instansi terkait untuk memberikan pembekalan mengenai ancaman kejahatan digital. Materi tersebut diberikan dalam bentuk edukasi,” sebutnya.
Di samping itu, rangkaian MPLS tahun ini juga akan diisi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hasil kolaborasi Dispendik bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.
"Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan peserta didik baru memulai tahun ajaran dalam kondisi sehat sekaligus mendukung pembentukan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak," pungkasnya. (pn1)
Editor : Wasi