Pos Polisi di Taman Bungkul Surabaya Dibakar Massa

pusaran.net

pusaran.net - Kondisi di Surabaya semakin malam makin memanas. Terlihat kepulan asap dan panasnya api yang membakar salah satu tenda di Jalan Raya Darmo Surabaya, sekitar pukul 22.30 WIB.

Lokasi ini dekat dengan Rumah Dinas (Rumdis) Kapolda Jawa Timur dan Pangdam V Brawijaya Surabaya.

Baca juga: Surabaya Kembali Raih WTP, Catat 14 Kali Berturut-turut

"Pas di tengah perempatan jalan Raya Darmo Surabaya ini, sejumlah massa tadi membakar salah satu tenda Pos Polisi," ujar Wawan, pedagang bakso Idola yang ditemui dilokasi kejadian, Jumat (29/8/2025).

Sebelumnya, massa aksi solidaritas pengemudi Ojek Online (Ojol) Affan Kurniawan yang meninggal dunia di Jakarta, masih berlangsung panas hingga malam ini di Surabaya, Jawa Timur.

"Pos Polisi yang berada di Taman Bungkul Dibakar massa. Mereka kemudian jalan ke arah Wonokromo, mengambil dan membawa bendera PAN yang terpasang di sepanjang jalan," ujar salah satu saksi mata, Ardian warga Gresik yang kebetulan melintas di Taman Bungkul Surabaya, Jumat (29/8) malam.

Massa demonstran sebelumnya juga melakukan aksi yang sama di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya. Mereka menjebol pagar dan membakar puluhan sepeda motor yang sedang terparkir.

Terpisah, Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Pol Nanang Avianto angkat bicara terkait kericuhan yang terjadi dalam aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Menurutnya, kericuhan itu bukan cerminan aspirasi murni komunitas ojek online (ojol).

Ia memastikan, aspirasi yang disampaikan para pengemudi ojol sejatinya berlangsung tertib dan kondusif, sebagaimana terlihat pada aksi damai yang digelar di Mapolda Jatim.

“Nah, rekan-rekan bisa membandingkan dengan yang di Grahadi dan yang sekarang di Polda. Ini ojol semua, murni, kondusif. Tidak ada apa-apa. Dan kami welcome terbuka. Aspirasi mereka kami tampung,” ujar Nanang usai acara doa bersama dan menyalakan seribu lilin di Mapolda Jatim.

Baca juga: RICH Pakal, Kelas Inggris Gratis untuk Anak Diserbu Warga Surabaya

Jenderal dua bintang emas ini menilai, aksi ricuh di Grahadi justru menimbulkan tanda tanya karena merusak fasilitas umum dan menodai simbol kebesaran Provinsi Jawa Timur.

“Jangan sampai ojol ini didiskreditkan. Terbukti sekarang, apa yang dilakukan di Polda itu murni aspirasi dan berlangsung tertib. Sementara yang di Grahadi berbeda. Kami akan investigasi siapa pelakunya, karena di situ ada simbol provinsi yang harus dijaga,” ucapnya.

Terkait penggunaan gas air mata, Nanang menegaskan bahwa langkah itu ditempuh setelah upaya persuasif tidak diindahkan. Sebelum gas air mata dilepaskan, aparat terlebih dahulu melakukan imbauan simpatik, barikade, hingga penyemprotan air.

“Proses pengamanan ada SOP-nya. Pertama imbauan, lalu barikade. Begitu kawat pengaman dirusak, kita bertahan. Setelah ada peringatan, tetap tidak mundur, kita semprot air," ujarnya.

"Tapi justru mereka makin beringas, ada pembakaran, perusakan CCTV, hingga pelemparan dengan paving. Bahkan ada motor yang dibakar,” imbuh Nanang.

Baca juga: Buang Rumen Kurban ke Sungai Masih Terjadi

Nanang menambahkan, aparat sama sekali tidak menggunakan senjata api maupun peluru, baik tajam maupun karet.

“Tidak ada kami menggunakan senjata. Apalagi peluru tajam. Yang kami gunakan hanya gas air mata, supaya massa mundur dan situasi terkendali,” ucapnya.

Nanang berharap seluruh elemen masyarakat Jawa Timur dapat menjaga kondusivitas dan tidak merusak fasilitas publik yang sejatinya merupakan milik bersama.

“Dari pada dipakai merusak fasilitas umum, lebih baik anggaran digunakan untuk kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Saya yakin sederek kabeh warga Jawa Timur pasti sayang Jawa Timur. Ayo kita jaga bersama,” ujarnya.

Editor : Wasi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru