Fondasi NU Sudah Kuat, Gus Yahya Tak Perlu Jabat Ketua Umum PBNU LagI

pusaran.net

pusaran.net - Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Imam Malik Riduan, menyoroti visi misi yang ditawarkan para calon ketua umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. 

Misalnya, visi KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang ingin menuntaskan pembangunan organisasi di atas fondasi yang telah diletakkan serta mentransformasi jam'iyah menjadi sistem yang matang dan siap digunakan. 

Baca juga: Kursi atau Korban Gempa NTT ? Pesan Tegas Gus Yusuf untuk Muktamirin

“Saya tadinya curiga kalau fokusnya hanya kepada hal-hal yang digital dan global. Tetapi ternyata beliau juga meng-address basisnya di pesantren. Artinya, kekhawatiran kehilangan basis itu tidak ada,” kata Imam Malik dalam Talkshow Mimbar Muktamar NU yang bertema Mengupas Visi & Gagasan Calon Ketua Umum PBNU di Aula Dirosah Al-Amin Ponpes Al-Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Sabtu (29/8/2026).

Namun, Imam Malik justru menilai pernyataan tentang fondasi organisasi dan roadmap yang telah dibangun selama kepemimpinan Gus Yahya dapat menjadi bukti bahwa sistem yang dibangun NU seharusnya mampu berkelanjutan, tanpa bergantung pada satu figur.

“Kalau fondasinya sudah ada dan roadmap-nya sudah jelas, tidak harus Gus Yahya yang menjadi Ketua Umum PBNU lagi. Tukangnya boleh siapa saja karena fondasinya sudah ada. Gambar arsiteknya juga sudah ada,” katanya.

Menurut Imam Malik, selama lima tahun terakhir Gus Yahya telah memiliki kesempatan untuk membangun fondasi transformasi organisasi. Artinya, Gus Yahya sudah membangun sesuatu yang sangat kuat yang bisa diteruskan oleh siapa pun. 

Sementara itu, terkait visi misi KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Imam Malik menilai visi menjaga tradisi sekaligus mendorong inovasi merupakan gagasan yang kuat karena bertumpu pada pengalaman nyata.

Baca juga: Hadiri Muktamar NU di Jombang, AMY : Jatim Punya Peran Penting

Gus Yusuf mengusung cita-cita mengembalikan PBNU sebagai rumah besar bagi jamaah yang rukun dan memberikan pelayanan kepada warganya. Program prioritas yang ditawarkan antara lain pengembangan layanan kesehatan, transformasi pesantren yang tetap memegang tradisi kitab kuning namun adaptif terhadap vokasi dan teknologi, serta tata kelola organisasi yang transparan dan partisipatif.

“Ini menurut saya salah satu visi yang sangat terpandang karena mengamplifikasi dan kemudian memaksimalkan basis di bawah,” kata Imam Malik.

Gus Yusuf memiliki gagasan-gagasan yang dinilai kuat dan telah dibuktikan melalui kepemimpinannya di lingkungan pesantren dan komunitas. Gus Yusuf memiliki pesantren besar, sekolah vokasi unggulan, dan rumah sakit. 

Baca juga: Gus Syaifuddin Sentil PBNU: Jangan Merasa Besar, tapi Organisasi Stagnan

Menurut Imam Malik, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Gus Yusuf bukan sekadar menawarkan gagasan tentang transformasi pesantren dan pelayanan warga, melainkan telah memiliki pengalaman dalam menjalankan konsep tersebut secara langsung.

Namun demikian, Imam Malik menilai tantangan terbesar Gus Yusuf adalah membawa keberhasilan yang selama ini dibangun pada tingkat lokal menjadi gerakan organisasi berskala nasional.

Selain itu, Imam Malik juga menilai pengalaman politik Gus Yusuf menjadi salah satu modal penting. Sebagai tokoh yang pernah memimpin DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah, Gus Yusuf dinilai memiliki literasi politik dan pengalaman dalam memahami dinamika kekuasaan. (pn3)

Editor : Wasi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru