pusaran.net - Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus mantan Ketua PCNU Jakarta Pusat, Gus Syaifuddin, menilai evaluasi terhadap kinerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak semestinya dilakukan hanya setiap lima tahun menjelang muktamar.
Menurutnya, evaluasi organisasi idealnya dilakukan secara berkala, bahkan setiap tahun. Langkah tersebut penting untuk mengukur perkembangan organisasi sekaligus memastikan NU tetap bergerak dan tidak hanya besar secara nama.
Baca juga: Muktamirin Gelisah, AHWA Diduga Mulai Dikondisikan
“Organisasi itu harusnya dievaluasi setiap tahun, bukan hanya lima tahun sekali. Supaya kita tahu positioning organisasi itu di mana. Jangan sampai kita merasa besar, tapi besarnya hanya nama, sementara sebenarnya organisasi ini stagnan dan tidak bergerak,” ujar Gus Syaifuddin.
Hal itu disampaikan dalam acara Mimbar Muktamar NU yang digelar Suluh Nahdliyin bekerja sama dengan Gerakan Nahdliyin Bersatu dan Padasuka TV di Pondok Pesantren Al Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Forum tersebut mengangkat tema “Evaluasi Kinerja 5 Tahun PBNU” sebagai bagian dari diskusi mengenai perjalanan organisasi dan arah NU ke depan.
Dalam kesempatan itu, Gus Syaifuddin juga menyoroti dinamika dan konflik yang terjadi di lingkungan PBNU. Ia berharap persoalan internal tersebut tidak kembali terjadi dan tidak merembet ke struktur organisasi di tingkat PWNU maupun PCNU.
“Konflik di PBNU ini semoga tidak terjadi lagi. Tentu kami sayangkan dan bukan tidak mungkin bisa merembet ke PWNU dan PCNU. Karena itu, saya berharap muktamar kali ini bisa menjadi jalan perbaikan agar perpecahan tidak lagi terjadi,” katanya.
Baca juga: Peserta “Dikarantina” di Sukolilo, Pengamat: Marwah Muktamar NU Tercoreng
Ia juga menilai dinamika di tingkat pusat berpotensi membuat PBNU kurang memiliki kesempatan untuk turun dan menyerap aspirasi warga NU di bawah.
“PBNU jadinya tidak sempat turun ke bawah, padahal di bawah berharap PBNU. Organisasi ini bisa kuat kalau sama-sama solid. Struktural solid, kultural juga harus solid,” ujarnya.
Menurut Gus Syaifuddin, kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur kepengurusan, tetapi juga pada soliditas warga dan kekuatan kultur yang selama ini menjadi basis utama organisasi.
Baca juga: Muktamar NU ke-35 Perkuat Pengawasan dengan Teknologi
Ia berharap kepemimpinan NU ke depan mampu memperkuat kembali hubungan antara struktur dan kultur. Soliditas tersebut, kata dia, juga penting bagi kehidupan kebangsaan.
Lebih lanjut, Gus Syaifuddin menyebut besarnya NU membuat setiap dinamika di tubuh organisasi selalu menarik perhatian banyak pihak. Karena itu, ia menilai keterlibatan berbagai elemen dalam proses muktamar merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan.
“NU ini organisasi sangat besar. Tentu dinamika di dalamnya pasti ada. Organisasi kecil tentu tidak semenarik NU. Kalau NU itu seksi karena memang NU-nya sendiri besar. Lalu siapa yang tidak akan ikut andil dalam proses muktamar ini?” pungkasnya. (pn1)
Editor : Wasi